Oleh Adam al-Atsariy
--------------------------------------------------------------------------------
Di tengah gelombang kebid'ahan dan kesyirikan yang menerpa umat
sekarang ini. Di saat kebingungan dan ketimpangan semakin
membelit kaum mudanya. Ahlul ahwa' (para pengikut
hawa-nafsu) tidak henti-hentinya melontarkan kerancuan dan keraguan.
Bahkan tidak jarang melemparkan tuduhan serta fitnah yang
tidak berdasar ke tengah-tengah umat terhadap kemulian dakwah Salafiyah yang
penuh barakah ini dan para dainya. Semua itu ibarat riak-riak kecil, bila
tidak segera ditepis akan menjadi gelombang ganas yang
membahayakan lagi mengkhawatirkan.
Salah seorang murid senior Muhadits abad ini (Imam al-Albani t),
yaitu Syaikh Muhammad bin Musa Nashr telah mengumpulkan beberapa syubhat yang
dilontarkan oleh musuh da'wah Salafiyah, kemudian beliau iringi dengan
bantahannya.
Pada kesempatan ini kami sampaikan sebagian dari bantahannya tersebut
dan kami pilih yang sekiranya mendesak untuk diketahui.
Syubhat Pertama:
Salafiyah adalah sebuah penasaban yang bid'ah!
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa
Nashr:
"Sebagian musuh dakwah Salafiyah menganggap bahwa menisbatkan diri
kepada Salaf merupakan pengelompokan bid'ah. Hal itu sebagaimana menamakan diri dengan: Ikhwanul Muslimin, Hizbut
Thahrir, dan Jamaah Tabligh. Mereka tidak tahu, bahwa
Salafiyah adalah sebuah penasaban terhadap generasi terbaik. Yaitu generasi sahabat dan tabi'in, yang telah dipersaksikan oleh
Rasulullah n dengan kebaikan. Juga merupakan penyandaran terhadap umat
yang ma'sum (terjaga dari kesalahan), yang tidak akan
bersepakat di dalam kesesatan, umat yang telah diridhai oleh Allah. Dia
berfirman:
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha
kepada-Nya. (al-Bayyinah: 8)
Sungguh jauh berbeda, antara orang yang menisbatkan diri kepada
individu yang tidak ma'sum , bersikap loyal, dan fanatik terhadap seluruh
perkataan dan pendapatnya, dengan orang yang menisbatkan diri kepada umat yang
selamat dari penyimpangan dan kesesatan di saat munculnya banyak
perselisihan.
Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok.
Semuanya di dalam neraka kecuali satu. Siapa dia wahai Rasulullah? Jawab Rasulullah n : "Mereka
adalah orang-orang yang semisal dengan apa yang aku dan sahabatku berada di
atasnya [HR. Abu Dawud no. 4596, Tirmidzi no. 2640, Ibnu Majah no. 3991, Ahmad
2/332]
Itulah Salafiyah yang mengambil Islam secara murni, bersih dari
segala bid'ah. Islam yang dibawa Rasulullah n , para
sahabatnya dan umat terbaik sesudah mereka.
Bagaimana kalian membolehkan "jamaah-jamaah" Islam menisbatkan diri
terhadap individu-individu yang tidak ma'sum, lalu pada waktu yang sama kalian melarang orang-orang menasabkan kepada umat yang
ma'sum dari segala kesesatan. Menasabkan diri kepada Salafush
Shalih, dari kalangan sahabat, tabi'in, dan para imam (ulama) rabbani yang jauh
dari hizbiyah- hizbiyah (fanatik terhadap kelompok-kelompok) pemecah belah
umat?
Guru kami, al-Albani telah berkata, membantah hizbiyah : "Kami terang-terangan memerangi hizbiyah- hizbiyah
tersebut, karena hal tersebut sebagaimana firman Allah:
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (al-Mu'minun: 53)
Padahal tidak ada hizbiyah sama sekali dalam
Islam. Berdasarkan nash al-Qur'an, hizb hanya ada satu,
(yakni hizbullah).
Ketahuilah sesungguhnya hizb Allahlah yang
beruntung. (Mujadalah: 22)
Hizbullah adalah jamaah Rasulullah n dan hendaknya seseorang itu
berada di atas manhaj para sahabat, hal ini membutuhkan ilmu terhadap Al-Kitab
dan As-Sunnah. *)*)[Lihat Manhaj Salafi Inda al-Albanny
hal 13-19 dan Limadza Ikhtartu Manhaj Salaf hal 34].
Beliau (Al-Albani) pernah juga ditanya:
"Apakah Salafiyah itu dakwah hizbiyah, golongan, madzhab ataukah
kelompok baru dalam Islam?"
Beliau menjawab:
"Kalimat "Salaf" itu terkenal di dalam bahasa Arab dan
syar'i. Telah shahih dari Nabi n , ketika akan
wafat beliau berkata kepada Fatimah, putrinya:
Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah. Aku adalah sebaik-baik salaf
bagimu.
Banyak sekali para ulama' yang mengunakan istilah
"Salaf". Satu contoh, ketika mereka menggunakannya untuk menghancurkan
bid'ah:
Setiap kebaikan adalah di dalam mengikuti salaf, dan setiap kejelekan
adalah di dalam bid'ahnya khalaf.
Tetapi ada sebagian orang yang mengaku berilmu mengingkari penisbatan
terhadap Salaf, dengan anggapan hal itu tidak ada
sandarannya. Dia mengatakan: "Seorang muslim tidak boleh
mengatakan: "Saya Salafi". Sepertinya dia mengatakan: "Seorang muslim tidak
boleh mengatakan saya adalah pengikut manhaj Salaf as-shalih dalam aqidah,
ibadah, peri-laku dan lainnya."
Tidak diragukan lagi, pengingkaran ini membawa konsekwensi dia
berlepas diri dari Islam yang shahih. Islamnya para Salaf as-Shalih, yang dipimpin oleh Rasulullah n ,
sebagaimana telah diisyaratkan oleh hadits mutawatir dalam "Shahihain" dan
lainnya, Nabi n bersabda:
Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya,
kemudian generasi setelahnya.
Seorang muslim tidak boleh berlepas diri
dari penisbatan kepada Salafush shalih. Orang yang mengingkari
penisbatan yang mulia ini, bukankah dia juga menisbatkan diri kepada
madzhab-madzhab yang ada, baik dalam aqidah, maupun fiqih? Bisa jadi dia seorang Asy'ariy [Orang yang mengaku mengikuti aqidah
Abul Hasan Al-Asy'ariy-Red] atau Maturidy [Orang yang mengaku mengikuti aqidah
Al-Maturidiy-Red]. Bisa jadi pula seorang Hanafi [Orang yang mengaku
mengikuti fiqih Abu Hanifah-Red] , Syafi'i [Orang yang
mengaku mengikuti fiqih imam Muhammad bin Idris Asy-Sya'ifi-Red], Maliki [Orang
yang mengaku mengikuti fiqih imam Malik bin Anas-Red] atau Hambali [Orang yang
mengaku mengikuti imam Ahmad bin Hambal-Red], yang tergolong Ahlus Sunnah wal
Jamaah. Padahal orang yang menisbatkan kepada madzhab Asy'ariy
atau salah satu dari 4 madzhab (fiqih) yang ada, dia telah menisbatkan diri
kepada individu yang tidak ma'sum, walaupoun ada juga paraulama yang
benar. Tetapi apakah dia mengingkari penisbatan kepada
individu-individu yang tidak ma'sum ini? [Lihat Manhaj Salafi 'Inda
Syeikh Al-Albani, hal 13-19 dan Limadza Ikhtartu Manhaj Salafi, hal.
34.]
Dan inilah perkataan ahlul ilmi tentang bolehnya menisbatkan diri
kepada Salafush as-Shalih:
Ibnu Manzhur berkata: "Termasuk arti Salaf adalah: pendahulumu, yaitu
bapak-bapakmu dan kerabatmu yang punya umur dan keutamaan lebih di atasmu. Oleh karena itu generasi pertama dari kalangan tabi'in dinamakan
"Salafush Shalih."[Lihat Lisanul Arab 9/159].
Rasulullah n pernah berkata kepada putrinya, Zainab, ketika akan meninggal:
Susullah Salaf kita yang shahih, yaitu Utsman bin Mazh'un. [HR. Ahmad no. (1/335); Ibnu Sa'ad
(1/398-399) didhaifkan oleh al-Albani dalam Silsilah Dha'ifah no.
1715].
Al-Ghazali berkata: "Yang saya maksud dengan Salaf adalah madzhab
sahabat dan tabi'in."[Lihat Iljamul 'Awam, hal: 62].
Syaikhul Islam berkata: "Tiada aib bagi orang yang menampakkan
madzhab salaf dan menisbatkan kepadanya, bahkan penisbatan tersebut wajib
diterima menurut kesepakatan (ulama'), karena madzhab salaf adalah madzhab yang
haq."[Lihat Majmu Fatawa 4/149].
Al-Baijuri berkata: "Yang dimaksud dengan istilah Salaf adalah orang
yang terdahulu dari para nabi, tabi'in dan tabiut tabi'in." [Lihat "Jauhat at-Tauhid" hal. 111].
Syubhat II:
Salafiyun Iebih mementingkan perkara-perkara furu' (cabang, remeh)
ketimbang perkara Ashl (pokok).
Jawaban Syaikh :
"Ini merupakan kedustaan serta bualan mereka. Sesungguhnya da'wah Salafiyah -alhamdulillah- mengimani Islam
seluruhnya, tanpa pilih-pilih, berdasarkan firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara
kaffah. (Al- Baqoroh : 207)
Dan juga dengan firman Allah yang lain, yang
mencela orang yang mengambil/mengamalkan agama hanya menurut selera hawa
nafsu.
Apakah kalian mengimani sebagian dari kitab, dan mengkufuri
sebagiannya? (Al-Baqarah 85)
Kewajiban terpenting dalam da'wah Salafiyah adalah tauhid,
menghambakan makhluk kepada Rabbnya, mentarbiyah (membina) umat di atas manhaj
Rasul, dan memberikan perhatian terhadap sunnah-sunnah yang sudah mulai
ditinggalkan lalu menghidupkannya kembali. Semua itu merupakan bagian dari program dan manhaj
da'wah Salafiyah. Tetapi sebagian orang-orang yang menyelisihi da'wah
Salafiyah ini ada yang menganggap sunnah-sunnah Rasul ,
seperti: siwak, memanjangkan jenggot, meninggikan kain di atas mata kaki, sutrah
dan lainnya, sebagai perkara "qusyur" (remeh/kulit).
Sangat buruk kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah
yang mereka ucapkan melainkan kedustaan. (al-Kahfi: 5)
Orang-orang yang bingung itu tidak tahu, bahwa Islam itu semuanya
lubab (inti), sehingga persepsi dan pikiran mereka yang
busuk. menganggapnya sebagai
"qusyur".
Padahal semua yang dibawa oleh wahyu (Al-Kitab dan As-Sunnah) adalah
haq dan lubab (inti), orang yang memperolok-olok sesuatu darinya maka dia
kafir. Sedangkan orang yang menyebut sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah
dengan "qusyur" (kulit, hal remeh) yang dapat dibuang, maka dia berada di
pinggir jurang yang dalam.
Syubhat III:
"Dakwah Salafiyah tidak memberikan perhatian terhadap masalah-masalah
politik, bahkan meninggalkannya sama sekali."
Syaikh menjawab:
"Ini juga merupakan kedustaan yang nyata. Karena menurut Salafiyin, perkara politik termasuk
dalam urusan dien. Tetapi politik yang mana?
Apakah politik koran-koran, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita
milik Yahudi dan Nashari? Ataukah politik Rasulullah n dan para
sahabatnya?
Apakah politik demokrasi, yang mereka dengungkan dengan semboyan
orang-orang kafir: "Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat?"
Ataukah politik pemeluk Islam yang berprinsip: "Hukum Allah, untuk
Allah, berpijak pada Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, melalui musyawarah yang
dibenarkan oleh Islam?"
Dan apakah politik yang kebenaran diukur dengan banyaknya jari yang
terangkat (voting) di Majelis Perwakilan Rakyat, meskipun terkadang voting
tersebut menambah kuatnya kemungkaran atau kesyirikan?
Ataukah politik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah k . Dia berfirman:
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.
(Yusuf: 15)
Salafiyin tidak ingin meraih al-haq dengan cara yang batil. Karena menurut mereka, sebuah tujuan
tidaklah menghalalkan segala cara. Mereka tidak akan berjuang di atas "punggung-punggung babi", tidak akan
minta pertolongan kepada kaum musyrikin, dan selamanya tidak akan berkumpul
dengan orang-orang munafiq. Mereka menolak jumlah banyak yang
bersifat seperti buih, yang tidak menyandang sifat syar'i
sedikitpun.
Syubhat IV:
"Salafiyun bersikap mudahanah terhadap penguasa, tidak bicara al-haq
secara terang-terangan di hadapan mereka."
Jawaban Syaikh:
"Di mana Salafiyun yang menempati jabatan-jabatan tinggi, berupa
jabatan Menteri, Hakim atau Mufti di negara-negara Islam? Mencari jabatan sepert itu adalah monopoli ahli
bid'ah selama puluhan tahun. Andaikata Salafiyun mau cari muka dan
menjual ilmu, niscaya mereka akan meraih apa yang telah
diraih selain mereka. Tetapi Salafiyun memandang itu semua
sebagai kemunafikan. Bahkan mereka tidak memandang
bolehnya memasuki Majlis Perwakilan Rakyat, agar tidak menjadi jembatan untuk
Undang-Undang buatan manusia dan hukum-hukum Thaghut, dan tidak bergelimang
dalam kebatilan.
Kalau ada oknum yang menasabkan diri kepada Salafiyah, lalu dia
memuji-muji penguasa dengan dusta, mencari muka dengan cara berbasa-basi dan bersikap nifaq, maka hanyalah mewakili
dirinya sendiri. Dakwah Salaf serta Salafiyun berlepas diri dari apa yang dia lakukan. Kewajiban Salafiyun
terhadap orang seperti itu adalah memberikan nasehat dan mengingatkan, kemudian
memboikot dan memberikan peringatan (jika dia enggan,
pen).
Salafiyun adalah orang-orang yang membicarakan al-haq secara
terang-terangan penuh, dengan hikmah dan nasehat yang baik. Tanpa mengobarkan pengkafiran, menyatakan orang
lain durhaka, dan pemberontakan terhadap penguasa.
Dakwah Salaf mengajak untuk memberikan nasehat terhadap penguasa,
serta zuhud terhadap apa-apa yang ada pada mereka, yang berupa harta, jabatan,
dan kehormatan. Juga mengajak untuk tidak mengobarkan (emosi)
terhadap mereka, tidak rakus terhadap singgasana mereka, tidak memberontak
melawan mereka. Kecuali jika nampak kekufuran yang
nyata pada mereka, dengan terpenuhinya syarat-syarat serta tidak adanya
penghalang-penghalang kekafiran. Tetapi hal itu
ditetapkan oleh ulama, bukan oleh orang-orang hina yang mengikuti setiap orang
yang memanggil.
Syubhat V:
"Salafiyin suka berlebih-lebihan・!"
Jawaban Syaikh:
"Adapun kalau yang dimaksud berlebih-lebihan adalah
bersungguh-sungguh di dalam al-haq, melaksanakan kawajiban-kewajiban, dan
menghidupkan sunnah-sunnah yang sudah mulai ditinggalkan, maka ini adalah haq,
bukan aib bagi seorang muslim. Sedangkan yang merupakan aib adalah kalau seseorang meremehkan
perkara-perkara agama, membolehkan hal-hal yang diharamkan, serta mengerjakan
hal-hal yang melanggar syari'at.
Maka apakah memelihara jenggot yang merupakan Sunnah merupakan sikap
berlebihan? Apakah memendekkan kain di atas mata kaki sampai
pertengahan betis yang merupakan Sunnah merupakan sikap berlebihan? Apakah mengharamkan jabat-tangan dengan wanita bukan mahram,
mengharamkan lagu-lagu dan musik, termasuk berlebih-lebihan? Padahal
ulama' dahulu dan sekarang telah berfatwa dengan hal-hal di
atas!
Itu semua hanyalah tuduhan yang dibuat-buat agar manusia menjauhi
para da'i Al-Kitab dan As-Sunnah pengikut Salaful Ummah.
Salafiyah tidaklah menyia-nyiakan syari'at ini sedikitpun, tidak
meremehkan Sunnah, apapun bentuknya. Sebagaimana hal itu dilakukan oleh harikiyin dan
hizbiyin yang menuduh Salafiyin suka mencari-cari masalah ganjil yang mereka
namai dengan "qusyur" (perkara kulit) untuk
meremehkannya.
Keberuntunganlah bagi orang-orang yang asing, yang telah diberitakan
oleh Nabi , dengan sabdanya:
Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnah-sunnah Rasulullah n
yang telah dirusak oleh manusia. [HR. Tirmidzi (5/10), Ahmad (4/73), Thabrani di Mu'jamul Kabir
17/16]
Syubhat VI:
"Salafiyin tidak menaruh perhatian terhadap masalah
jihad."
Syaikh menjawab:
"Jihad merupakan puncak syari'at. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menganjurkannya
banyak sekali dan sudah terkenal. Tetapi jihad
mempunyai kaedah-kaedah, syarat-syarat, dan adab-adab. Salafiyun tidak
akan berangkat jihad di bawah bendera jahiliyah, karena
jihad tidaklah disyari'atkan kecuali untuk menegakkan syari'at Allah. Dia
berfirman:
Sehingga tidak terjadi fitnah, dan agama seluruhnya untuk
Allah. (al-Anfaal: 39)
Untuk berjihad harus ada imam, harus ada bendera
Islam. Dan harus ada pembinaan rabbaniyah seputar
jihad. Harus ada bekal dan kesiapan. Menurut
Salafiyin, jihad haruslah berdasarkan ilmu, keyakinan dan sasaran yang jelas.
Jika bendera telah tegak dan tujuan (sasaran) juga jelas, maka Salafiyin tidak
akan ketinggalan. Bumi Palestina, Chehcnya, Afghon,
Balkan, Kasmir menjadi saksi bagi mereka di sisi Allah
. Mereka mendorong peperangan (jihad) dengan pemahaman
seperti ini.
Syubhat VII:
"Dakwah Salafiyah memecah belah umat dan membikin
fitnah."
Jawab Syaikh:
"Kenapa dakwah Salaf dituduh demikian? Karena dakwah ini memisahkan keburukan dari
kebajikan, padahal itu merupakan tujuan Allah dan
Rasul-Nya.
Agar Allah memisahkan antara kejelekan dengan
kebaikan. (al-Anfaal: 37)
Allah juga berfirman:
Katakanlah: "Kebenaran itu dari Rabb kalian, barangsiapa yang ingin,
berimanlah dan siapa yang ingin , kufurlah. (al-Kahfi: 29)
Ketika seorang da'i Salafi memerangi bid'ah dan ahli bid'ah, langsung
dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang keji tersebut. Karena memang di antara prinsip Ahlul Bid'ah
adalah mengumpulkan orang dengan membabi buta dengan dalih menjaga persatuan
kaum muslimin. Mereka tidak peduli bentuk dan jenisnya,
tetapi yang penting kwantitas, bagaimana itu bisa terwujud. Karena itu kamu lihat mereka berbasa-basi di hadapan ahlul bid'ah
dan ahli kesesatan. Tetapi mereka tidak mau berdamai
dengan Salafiyin. Bahkan mereka memusuhi, mencela,
membenci, dan membesar-besarkan kesalahan
Salafiyin.
Kami akan senantiasa ingat ucapan salah satu
pembesar Ikhwanul Musimin di kota Zarqo' yang membela Khumaini dan revolusinya serta membantah
Salafiyin yang memperingatkan dari firqah Syiah, condong kepadanya. Dia berkata:
"Muslim Syiah yang menegakkan syari'at Allah, lebih utama daripada Sunni Salafi
yang tidak menegakkan syari'at, mereka itu perusak."
Lalu dia memberikan tuduhan-tuduhan bahwa Salafi membuat fitnah dan
memecah belah umat. Maka saya katakan: "Perhatikanlah mereka telah terjatuh ke dalam
fitnah, tidaklah mereka mengetahui bahwa Syiah adalah Yahudinya umat ini. Syi'ah adalah firqah yang paling buruk. Karena berbagai
perkara yang ada pada mereka, seperti: bid'ah, kesesatan, merubah kitab Allah,
mencela sahabat Rasulullah , dan menuduh Aisyah ummul mukminin berzina, padahal
Allah telah mensucikannya dari atas langit ke tujuh, Maha tinggi Allah dengan
ketinggiannya yang Agung dari apa yang diucapkan orang-orang dhalim.
Demikian beberapa syubhat diantara banyak syubhat yang dilontarkan
oleh sebagian orang kepada dakwah salafiyah dan bantahannya. Mudahan-mudahan Allah memudahkan bagi kita untuk
mengenal yang hak sebagai sebuah kebenaran dan semoga Allah memberikan kekuatan
kepada kita untuk melaksanakan nya. [tambahan
dari redaksi]
(Dirangkum oleh Adam al-Atsariy dari kitab "Min Ma'alim Manhaj
Nabawi" oleh Syaikh Doktor Abu Anas Muhammad bin Musa An-Nashr)

0 Response to "Menepis Syubhat (Kerancuan) Terhadap Salafiyah"
Posting Komentar